Ada sesuatu yang istimewa ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba pekerjaan yang mungkin terlihat “terlalu sulit” bagi usianya.
Hari itu, ia berkesempatan untuk merajut.
Benang mungkin belum teratur. Tusukan belum selalu tepat. Hasil akhirnya mungkin jauh dari sempurna.
Dan tidak apa-apa.
Karena di lingkungan Montessori, kita tidak selalu mengejar sebuah hasil yang sempurna. Kita memberikan ruang bagi anak untuk mengalami sebuah proses: mencoba, memperhatikan, mengulang, keliru, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Ada banyak hal yang sedang dipelajari oleh tangan-tangan kecil itu.
Ketika seorang anak memegang alat, mengarahkan benang, memasukkan, menarik, lalu mengulangi gerakan yang sama, sebenarnya bukan hanya keterampilan merajut yang sedang berkembang.
Ia sedang belajar koordinasi mata dan tangan.
Ia belajar mengatur gerakannya agar lebih terarah. Ia belajar bahwa sebuah pekerjaan membutuhkan konsentrasi dan kesabaran. Ia belajar bahwa sesuatu tidak selalu langsung berhasil pada percobaan pertama.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, ia sedang membangun satu pemahaman sederhana yang sangat penting:
“Aku bisa mencoba sesuatu yang baru.”
Biarkan Hasilnya Tidak Sempurna
Sebagai orang dewasa, kita sering tergoda untuk membantu.
“Biar Mama saja.”
“Ini benangnya salah.”
“Begini caranya.”
“Kurang rapi.”
Padahal, ketika anak sedang bekerja, kesempatan untuk berjuang sedikit demi sedikit itulah yang justru berharga.
Tentu, orang dewasa tetap hadir untuk memastikan lingkungan aman dan memberikan bantuan ketika memang diperlukan. Namun tidak semua kesalahan perlu segera diperbaiki oleh orang dewasa.
Ada kalanya anak perlu mengalami sendiri bahwa benang bisa kusut. Bahwa tusukannya bisa salah. Bahwa tangannya bisa belum cukup terampil. Dan bahwa ia boleh mencoba lagi.
Karena kemandirian bukan berarti anak selalu mampu melakukannya dengan sempurna.
Kemandirian tumbuh ketika anak memiliki kesempatan untuk mencoba dan mempercayai kemampuannya sendiri.
Mungkin suatu hari ia tidak mengingat hasil rajutannya.
Bisa jadi bertahun-tahun dari sekarang, ia bahkan tidak lagi ingat seperti apa bentuk rajutan pertamanya.
Tetapi mungkin ia akan membawa sesuatu yang jauh lebih penting.
Sebuah pengalaman tentang duduk dengan tenang dan mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Tentang mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
Tentang tidak langsung menyerah ketika belum berhasil.
Tentang seorang dewasa yang memberinya cukup waktu untuk mencoba.
Dan tentang perasaan:
“Aku dipercaya untuk melakukan ini.”
Itulah mengapa di Numa, kami percaya bahwa kesempatan belajar tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang indah untuk dilihat.
Kadang-kadang, hasil yang paling berharga justru tidak terlihat.
Ia tumbuh di dalam diri anak: dalam konsentrasinya, ketekunannya, koordinasi tubuhnya, rasa percaya dirinya, dan keyakinannya bahwa ia mampu belajar sesuatu yang baru.
Karena mungkin, suatu hari nanti, ketika ia sudah dewasa dan melihat kembali masa kecilnya, yang ia ingat bukanlah apakah rajutannya dulu rapi.
Melainkan:
“Dulu, aku pernah diberi kesempatan untuk mencoba.”
Dan barangkali, itulah salah satu hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada anak.
Kesempatan untuk tumbuh melalui pengalaman.
Tumbuh Bersama Numa.